Kamis, 01 November 2012

bukit siguntang




Bukit Siguntang adalah sebuah bukit kecil setinggi 29—30 meter dari permukaan laut yang terletak sekitar 3 kilometer dari tepian utara Sungai Musi dan masuk dalam wilayah kota Palembang, Sumatera Selatan. Secara administratif situs ini termasuk kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang. Bukit ini berjarak sekitar 4 kilometer di sebelah barat daya pusat kota Palembang, dapat dicapai dengan menggunakan angkutan umum menuju jurusan Bukit Besar.
Di lingkungan sekitar bukit ini ditemukan beberapa temuan purbakala yang dikaitkan dengan kerajaan Sriwijaya yang berjaya sekitar kurun abad ke-6 sampai ke-13 masehi. Di puncak bukit ini terdapat beberapa makam yang dipercaya sebagai leluhur warga Palembang. Oleh masyarakat setempat, kompleks ini dianggap keramat dan menjadi tempat tujuan ziarah. Kini Kawasan ini menjadi Taman Purbakala untuk menjaga artefak-artefak yang mungkin masih belum terungkap.
Bukit Seguntang sebagai bukit paling tinggi di dataran Palembang tampaknya telah dianggap sebagai tempat penting sejak masa Kerajaan Sriwijaya, beberapa temuan artefak yang bersifat buddhisme menunjukkan tempat bahwa ini adalah salah satu kawasan pemujaan dan keagamaan kerajaan. Pada tahun 1920-an di lereng selatan bukit ini ditemukan arca Buddha bergaya Amarawati. Arca berukuran cukup besar ini ditemukan dalam beberapa pecahan. Bagian yang pertama kali ditemukan adalah bagian kepalanya yang langsung dibawa ke Museum Nasional di Batavia. Beberapa bulan kemudian bagian tubuhnya ditemukan, kemudian bagian kepala dan tubuhnya disatukan. Akan tetapi hanya bagian kakinya yang kini masih belum ditemukan. Arca ini mengikuti langgam Amarawati yang berkembang di India Selatan abad II sampai V masehi. Pengaruh langgam Amarawati berkembang sampai ke Kerajaan Sriwijaya melalui hubungan dagang dan keagamaan dengan India. Arca setinggi 277 cm ini dibuat dari batu granit yang banyak ditemukan di pulau Bangka, maka disimpulkan bahwa arca ini adalah buatan setempat, bukan didatangkan dari India. Diperkirakan arca ini dibuat sekitar abad VII sampai VIII masehi. Kini arca ini dipamerkan di halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, dekat Benteng Kuto Besak, Palembang.
Di daerah Bukit Seguntang juga ditemukan fragmen arca Bodhisattwa. Kepala arca digambarkan dengan rambut yang tersisir rapi dengan ikatan seutas pita yang berhiaskan kuntum bunga. Di bukit ini juga ditemukan reruntuhan stupa dari bahan batu pasir dan bata, fragmen prasasti, arca Bodhisattwa batu, arca Kuwera, dan arca Buddha Wairocana dalam posisi duduk lengkap dengan prabha dan chattra. Di daerah Bukit Seguntang ditemukan pula fragmen prasasti batu yang ditulis dalam aksara Pallawa dan Bahasa Melayu Kuno. Prasasti yang terdiri dari 21 baris ini menceritakan tentang hebatnya sebuah peperangan yang mengakibatkan banyaknya darah tertumpah, disamping itu juga menyebutkan kutukan bagi mereka yang berbuat salah.
Sekitar 3 kilometer di sebelah tenggara dekat tepi sungai Musi terdapat situs Karanganyar, yang menunjukkan bekas pemukiman. Dua prasasti dari abad ke-7 ditemukan di dekatnya pada tahun 1920, berangka tahun 682 (Prasasti Kedukan Bukit) dan 684 (Prasasti Talang Tuwo). Pada tahun 1978, 1980, dan 1982 berbagai peninggalan keramik dari masa dinasti T'ang dan Sung awal diangkat dari area di lereng dan sekitar Bukit Seguntang.
Kompleks makam di Bukit Seguntang, di tengah adalah makam Panglima Tuan Junjungan.
Bukit Seguntang adalah gundukan tanah yang paling menonjol di dataran kota Palembang. Bukit yang dipenuhi taman dan pepohonan besar ini dipercaya sebagai kompleks pemakaman raja-raja Melayu. Pada bagian puncak bukit terdapat beberapa makam yang menurut penduduk lokal dikaitkan dengan tokoh-tokoh raja, bangsawan dan pahlawan Melayu-Sriwijaya. Terdapat tujuh makam di bukit ini, yaitu makam:
  • Raja Sigentar Alam
  • Pangeran Raja Batu Api
  • Putri Kembang Dadar
  • Putri Rambut Selako
  • Panglima Tuan Junjungan
  • Panglima Bagus Kuning
  • Panglima Bagus Karang
Menurut kitab Sulalatus Salatin, Bukit Seguntang merupakan tempat datangnya Sang Sapurba, keturunan Iskandar Zulkarnain, yang dikemudian hari menurunkan raja-raja Melayu di Sumatera, Kalimantan Barat, dan Semenanjung Malaya. Bukit Seguntang diibaratkan sebagai potongan Gunung Mahameru dalam kepercayaan Hindu-Buddha, dan dianggap suci karena merupakan cikal bakal orang-orang Melayu. Raja yang memerintah di Malaka dikatakan sebagai keturunan Sang Sapurba.


Sabokingking, Makam Raja Kerajaan Palembang




MAKAM Sabokingking, merupakan pemakaman raja-raja kerajaan Islam Palembang yang telah berusia 400 tahun lebih. Seperti makam Pangeran Sido Ing Kenayan dan istrinya Ratu Sihuhun, Sido Ing Pasaeran atau Jamaluddin Mangkurat I (1630-1652), serta Pangeran Ki Bodrowongso yang pernah hidup berkisar tahun 1622-1635 Masehi. Makam ini terletak di Sei-Buah, Ilir Timur II, Palembang.

Letak pemakaman ini tidak jauh dari dari kompleks pemakaman kakek Ratu Sinuhun yakni pemakaman Ki Gede Ing Suro, di lorong Haji Umar, di 1 Ilir Palembang. Pemakaman Sabokingking dikelilingi oleh kolam, sehingga terdapat sebuah jalan menuju pemakaman yang membelah kolam.

Di bawah pemerintahan Sido Ing Kenayan, Ratu Sinuhun mampu melahirkan kitab Undang-undang "Simbur Cahaya" yang merupakan hukum adat tertulis dan berlaku di seluruh wilayah Palembang (baca Sumatera Selatan) saat itu. Kitab ini mengatur soal hak-hak perempuan, serta aturan mengenai
lingkungan hidup, khususnya hutan.

Di pemakaman ini juga terdapat makam Al Habib Al Arif Billah Umar bin Muhammad Al Idrus bin Shahab, sebagai imam kubur Pangeran Sido Ing Kenayan dan Ratu Sinuhun, serta Panglima Kiai Kibagus Abdurrachman.

Di sekitar pemakaman para raja Palembang ini juga terdapat pemakaman umum, yang diperuntukkan bagi penduduk di sekitar daerah tersebut. Letaknya di seberang kolam atau tidak setanah dengan pemakaman Sabokingking.

Menuju ke pemakaman ini terdapat dua jalan, yakni Jalan Sabokingking dan Jalan Arafuru. Semua jalan dapat dilalui sepeda motor dan mobil. Bagi mereka yang ingin berziarah atau berwisata ke makam ini tidak dipungut bayaran, kecuali di sekitar makam terdapat tabungan yang menampung sumbangan sukarela dari mereka yang berkunjung. Dana ini digunakan buat biaya perawatan pemakaman.

Makam Ki Gede Ing Suro, Jejak Awal Kerajaan Islam Palembang




Kompleks Makam KI Gede Ing Suro

Palembang - Kompleks pemakaman kuno ini sekarang menjadi bagian dari jalur hijau (green barrier) PT Pusri. Di kompleks pemakaman yang masuk dalam wilayah administratif Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan IT II Palembang, ini terdapat delapan bangunan dengan jumlah makam keseluruhan 38.

Salah satu tokoh yang dimakamkan di kompleks pemakaman yang dibangun sekitar pertengahan abad 16 ini adalah Ki Gede Ing Suro. Dialah pendiri kerajaan Islam Palembang, yang kemudian menjadi Kesultanan Palembang Darussalam.

Ki Gede Ing Suro adalah putra Ki Gede Ing Lautan, salah satu dari 24 bangsawan dari Demak yang menyingkir ke Palembang, setelah terjadi kekacauan di kerajaan Islam terbesar di pulau Jawa itu. Kekisruhan ini merupakan rangkaian panjang dari sejarah kerajaan terbesar di Nusantara, setelah Kerajaan Sriwijaya yaitu Kerajaan Majapahit.

Raden Fatah yang lahir di Palembang adalah putra Raja Majapahit terakhir, yaitu Brawijaya V. Raden Fatah lahir dari Putri China yang disebut Putri Champa, setelah istri Brawijaya itu dikirim ke Palembang dan diberikan kepada putra Brawijaya, Ariodamar atau Ario Abdillah atau Ario Dillah.

Setelah dewasa, Raden Fatah bersama Raden Kusen, putra Ario Dillah dengan Putri China dikirim kembali ke Majapahit. Oleh Brawijaya V, Raden Fatah diperintahkan untuk menetap di Demak atau Bintoro sedangkan adiknya lain bapak, Raden Kusen, diangkat sebagai Adipati di Terung.

Pada masa menjelang akhir abad XV ini, Islam di Pulau Jawa mulai kuat. Saat terjadi penyerbuan oleh orang Islam terhadap Majapahit, prajurit kerajaan Hindu itu kalah dan Raja Brawijaya V menyingkir hingga kemudian mangkat. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Majapahit.

Setelah keruntuhan Majapahit, Sunan Ngampel Denta (wali tertua dalam Walisongo) menetapkan Raden Fatah sebagai Raja Jawa menggantikan ayahnya. Tentu saja, dengan pemerintahan Islam.

Raden Fatah, dibantu para wali, kemudian memindahkan pusat kekuasaan dari Surabaya ke Demak sekaligus menyebarkan agama Islam di daerah ini. Atas bantuan penguasa dan rakyat di
daerah yang sudah lepas dari Majapahit, antara lain Tuban, Gresik, Jepara, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Islam Demak sekitar tahun 1481 M.

Dia menjadi raja pertama dengan gelar Jimbun Ngabdur-Rahman Panembahan Palembang Sayidin Panata Agama. Raden Fatah yang wafat sekitar tahun 1518 M, digantikan putranya, Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor yang wafat tahun 1521 M.

Pengganti Pati Unus adalah Pangeran Trenggono (wafat tahun 1546 M). Wafatnya Sultan ketiga Demak ini merupakan awal dari kisruh berkepanjangan di kerajaan Islam yang sempat punya pengaruh besar di Nusantara itu. Tahta kerajaan menjadi rebutan antara saudara Trenggono dengan putranya.

Saudaranya, yang dikenal sebagai Pangeran Seda Ing Lepen dibunuh putra Trenggono, Pangeran Prawata. Prahara berlanjut dengan pembunuhan terhadap Prawata oleh Putra Seda Ing Lepen, Arya Penangsang atau Arya Jipang pada tahun 1549 M.

Menantu Trenggono, Pangeran Kalinyamat, juga dibunuh. Arya Penangsang akhirnya wafat dibunuh Adiwijaya. Menantu Trenggono yang terkenal sebagai Jaka Tingkir, Adipati penguasa Pajang ini kemudian memindahkan pusat kerajaan ke Pajang. Dengan demikian, berakhir pula kekuasaan Demak pada tahun 1546 M setelah berjaya selama 65 tahun.

Akibat kemelut itu, sebanyak 24 orang keturunan Sultan Trenggono (artinya, keturunan Raden Fatah) hijrah ke Palembang di bawah pimpinan Ki Gede Sido Ing Lautan. Setelah Ki Gede Sido Ing Lautan yang sempat berkuasa di Palembang wafat, digantikan putranya, Ki Gede Ing Suro. Karena raja ini tidak memiliki keturunan, dia digantikan saudaranya, Ki Gede Ing Suro Mud
o.

RUNTUHNYA KERAJAAN HINDHU-BUDHA


Keruntuhan kerajaan2 Hindu-Budha di Indonesia menurut beberapa buku Sejarah Indonesia dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Kerajaan-kerajaan yang kuat akan menguasai kerajaan-kerajaan yang lemah. Ini memang dapat kita lihat faktanya, seperti kerajaan Singasari lemah dan berhasil dikuasai oleh kerajaan Kediri, dan sebagainya. Demikian juga kalau Negara Indonesia lemah, akan d ikuasai oleh negara lain yang lebih kuat dari Indonesia. Penjajahan memang tidak dibenarkan lagi, tapi negara kuat bisa menjajah dari beberapa aspek tanpa harus menguasai daerah negara yang bersangkutan.
  2. Tidak ada kaderisasi dari para pemimpin / raja. Seperti halnya dengan Maha Patih Gajah Mada dan raja Hayam Wuruk, maka kerajaan Majapahit yang besar akhirnya roboh setelah berhasil mempersatukan wilayah Nusantara bahkan sampai ke Asia Tenggara, tetapi masih ada beberapa kerajaan di Nusantara yang belem bisa dipersatukan oleh Majapahit, seperti kerajaan Sunda. Sekarangpun Indonesia akan lemah bila para Pemimpin Bangsa tidak membuat kaderisasi agar generasi selanjutnya dapat menggantikan bahkan lebih maju, progresif, kreatif dan kuat dalam memikirkan keadaan bangsa Indonesia ini. bukan malah egois agar kepandaiannya tidak ditiru dan dikembangkan oleh generasi penerusnya.
  3. Timbulnya perang saudara dalam tubuh kerajaan tersebut. misalnya; perang Bubat dan Paregreg, Pembrontakan Kuti dan Semi, Pembrontakan Bhre Wirabumi, dan sebagainya. Ini sangat melemahkan eksistensi kerajaan. Apakah akan terjadi di Indonesia bila sampai sekarang masih terjadi perbedaan yang menimbulkan konflik akibat adanya pebedaan SARA? Aceh, Timor Timur, Papua, Poso, Ambon, bahkan antar suku, agama, dan golongan saling melecehkan dan terjadi konflik atau bentrok. Mahasiswa antar Fakultas dalam satu Universitas atau antar Universitas masih timbul saling serang/konflik, apakah ini bukan suatu perang saudara yang melemahkan negara Indonesia kita yang tercinta?
  4. Banyak daerah yang melepaskan diri dari pemerintahan pusat. Fakta telah berbicara dalam sejarah Indonesia, kerajaan kecil mulai melepaskan diri dan menjadi negara yang kuat dan bahkan memukul kerajaan induknya. Timor Timur sudah lepas dari NKRI, beberapa daerah sudah menunjukkan tanda-tanda mau melepaskan diri dengan membuat bendera sendiri, bukan Sang Saka Merah Putih. Ini harus selalu kita waspadai dan perlu memperhatikan daerah-daerah dengan pemerataan dan kunjungan-kunjungan ke daerah untuk menemukan problematika yang segera harus dipecahkan atau ditanggulangi. Mental ABS (Asal Bapak Senang) harus dihapus. Kunjungan ke daerah dilakukan secara Sidak (Inspeksi Mendadak) agar tidak ditutupi masalah yang terjadi dan kunjungan ke daerah harus merupakan pelayanan, bukan untuk minta dilayani.
  5. Kemunduran Ekonomi dan Perdagangan. Ini terjadi karena lemahnya perdagangan kerajaan2 waktu itu karena tidak diimbangi dengan armada-armada laut yang kuat untuk perdagangan, padahal Indonesia sangat kaya dengan bahan baku dan barang dagangan ang terkenal dibutuhkan sampai ke luar negara lain. Maka perdagangan dan ekonomi waktu itu mulai dikuasai oleh para pedagang dari Barat (Eropa), India, Arab, Cina, dan sebagainya yang melemahkan perekonomian kerajaan, sehingga kemiskinan akan mempermudah penguasaan dari kerajaan lain. Kita bisa lihat sendiri di Indonesia saat ini, barang impor sangat dominan menguasai perekonomian kita, apalagi para generasi muda lebih senang mengkonsumsi barang, makanan, dan minuman Luar Negeri dari pada mengkonsumsi produk Dalam negeri. Ini mungkin karena gengsi atau bahkan sudah "Luar Negeri Minded". Belum lagi rakyat kecil yang antre BBM (Minyak Tanah), Rakyat antre Zakat Fitrah sampai berdesak-desakan, bahkan ada yang meninggal, dsb. sebaliknya Kaum Bourjuise Shopping dan rekreasi Ke Luar Negeri, Pemegang HPH (hak pengelolaan hutan) kenyataan hanya sebagai HPH yang baru --> Hak Pengrusakan Hutan . Sehingga hutan Indonesia yang ditetapkan PBB sebagai salah satu paru-paru dunia akan rusak, apalagi dengan adanya Illegal Logging dengan dalih menambah Devisa Negara lewat ekspor kayu. Sungguh Tragis!
  6. Dan sebagainya.
Nah... beginilah sebaiknya pengajaran sejarah, sebab sejarah mempunyai 3 dimensi pengajaran; yaitu:
  1. Masa Lampau
  2. Masa Sekarang
  3. Masa yang akan Datang
Sungguh menarik, karena sejarah juga mempunyai Tujuan dan fungsinya dalam pengajaran di dunia pendidikan Indonesia.
Seperti :

Tujuan Pengajaran Sejarah di Indonesia adalah:
  1. Kesadaran akan masa lampau yang baik untuk dikembangkan yang bersifat positif.
  2. Sikap kritiss dan arif dalam menyikapi faka-fakta sejarah.
  3. Memberikan Fakta sejarah yang patut diketahui agar kita bisa membandingkan antara segi positif dan negatifnya, sesuai dengan dimensi sejarah.
Fungsi Pengajaran Sejarah di Indonesia adalah:
  1. Mengajak untuk berpikir Kritis.
  2. Menumbuhkan Rasa Kebangsaan Indonesia.
  3. Rasa Tanggungjaab terhadap warisan budaya bangsanya.

Lirik lagu Blink Takut Jatuh Cinta


Aku juga ingin jatuh cinta
Seperti yang lainnya
Kini saatnya untuk jatuh cinta
Karena dia menyatakan cinta

Tapi ku takut-takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta
Takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta

Namun bimbang kini yang ku rasa
Akankah dia terus setia
Atau hanya untuk sementara
Membuat Aku Kecewa

Tapi ku takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta
Takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta

Tapi ku takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila 
Takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila

Tapi ku takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta
Takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta

Tapi ku takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta
Takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta


Lirik lagu Blink Takut Jatuh Cinta


Aku juga ingin jatuh cinta
Seperti yang lainnya
Kini saatnya untuk jatuh cinta
Karena dia menyatakan cinta

Tapi ku takut-takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta
Takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta

Namun bimbang kini yang ku rasa
Akankah dia terus setia
Atau hanya untuk sementara
Membuat Aku Kecewa

Tapi ku takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta
Takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta

Tapi ku takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila 
Takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila

Tapi ku takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta
Takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta

Tapi ku takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta
Takut takut jatuh cinta
Takut takut patah hatinya
Takut takut jadi gila karena cinta